
June 30, 2011
myCampus UI Design

June 13, 2011
LinkedIn Your Life
May 09, 2010
ART for YOU (J.I)
ART
expensive, priceless and makes your life colorful even though it painted in black and white.
You don't have to understand it! You just have to love it and appreciate it,
In the end, you'll understand it by yourself.
September 18, 2009
"Aku ingin seseorang berdiri berdampingan dan memandang ke arah depan. Aku tidak ingin berhadapan dan saling memandang.
Aku tidak ingin bergantung, tapi aku ingin dilengkapi.
Dia tidak perlu menggandeng atau merangkul. tapi bangunkan aku ketika aku jatuh, dan tarik aku ketika aku berjalan keluar jalur.
bermainlah. bertemanlah.
begitu pun aku.
terbanglah yang tinggi
setinggi yang kau inginkan.
dan bila tiba saatnya kau tahu tempat dimana kau bisa kembali berpijak.
aku adalah rumahmu, kamu adalah rumahku.
kemanapun aku pergi, aku tau kemana aku akan kembali.
ketika aku sudah terlalu lelah, aku tau kemana aku harus bersandar.
tempat dimana aku merasa nyaman, rumahku.
jangan beri aku setangkai bunga yang akan layu nantinya, beri aku bibit yang bisa terus kujaga dan kurawat hingga menghasilkan ribuan bunga.
bertanyalah padaku
berceritalah padaku
tertawalah denganku
menangislah denganku
aku ingin kesederhanaan dalam realitas
bukan kemewahan dalam dongeng.
aku ingin membuat kehidupan
bukan menjalani kehidupan
aku ingin merangkai kata menjadi sebuah buku
buku yang tak pernah habis
yang akan selalu kita tulis dan kita baca.
sekarang kamu sudah tahu, lalu?"
12 : 20 AM
Gambar Setengah Matahari
Mungkin ini bukan gambar matahari pertama yang aku buat, tetapi dengan melihat gambar ini untuk pertama kalinya aku merasa bahwa selalu ada sudut pandang yang berbeda dari setiap hal yang terjadi.
Seperti gambar setengah matahari, aku menggambar setengah matahari itu di sisi bawah kertasku, seolah-olah matahari itu akan terbenam. Ketika aku putar 180 derajat kertasku, gambar setengah matahari itu menjadi berada di sisi atas kertasku. Seolah-olah dia baru akan terbit.
Gambar setengah matahari ini aku buat untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan saat ini, ketika aku melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupku, ketika aku membuat diriku ingin tenggelam, ketika aku membuat aku tidak percaya lagi pada aku, ketika aku membuat aku hanya ingin dan bisa membagi aku untuk aku, karna hanya aku yang mengerti aku, karna hanya aku tempat aku berpulang.
Aku menjadi terlalu egois sepertinya. Egois memang hal yang tergambar jelas. Tapi aku melakukan itu bukan untuk aku, tapi untuk kamu dan untuk dia. Meskipun aku terlihat hanya seperti memikirkan bagaimana aku merasa nyaman.
Seperti gambar setengah matahari, matahari itu akan terbenam. Untuk siapa matahari terbenam?
Apakah matahari egois? Apakah matahari hanya memikirkan dirinya? Apakah matahari hanya memikirkan kenyamanan dirinya untuk terus melakukan rutinitasnya tanpa memikirkan keinginan dan kebutuhan banyak orang diluar
Matahari melakukan itu karena dia tahu, ada banyak orang di rumah yang menunggu kepulangan banyak orang lainnya yang sedang melakukan kegiatan diluar.
Matahari memang menyebalkan dia terbit dan sinarnya membangunkanmu yang masih ingin tertidur, dia terbenam ketika masih ada banyak hal yang tersisa untuk dikerjakan.
Matahari melakukan itu bukan untuk dirinya, tetapi matahari terlihat melakukan itu semua seolah-olah hanya untuk dirinya dan dia melakukan itu semaunya.
Mungkin kesalahanku memang akhir dari segalanya. Membuat aku harus terbenam sekarang. Agar kamu dan dia dapat kembali ke rumah untuk menemui orang-orang yang sedang menunggu Kamu dan Dia.
Pasti Aku akan kembali terbit memancarkan sinarku seperti rutinitasku biasanya, dan saat itu aku akan bersinar untuk melihat kamu dan dia bersama orang-orang yang menunggu kamu dan dia.
Ini hal yang begitu sederhana seperti memutar kertas bergambar setengah matahari sebanyak 180derajat, dan aku akan menemukan caraku untuk membalikan gambar setengah matahariku untuk kamu dan dia, untuk aku memperbaiki kesalahanku pada kamu dan dia. Agar kamu dan dia memiliki bahagia.
11 September 2009
8:44 pm
July 11, 2009
June 16, 2009
Dear Tonia
Tonia, things happen for some reasons!
There’s no serendipity in life
Also the sun
The sun is shinning for some reasons
Time is always ‘knick-knock’
Walk your day and you’ll find a way to heal your pain
Don’t try too hard to hide the pain
Because it will healed by the time
Every ‘things’ need a process
Learn to fall and you will fly better
Until you can find your own WORLD
With your own SKY, RAINBOW, SUN and MOON
And with The ETERNAL SMILEMatahari Itu Baru Saja Tenggelam
***
“Tidak! Aku baik-baik saja saat ini”
“Bajingan dia!”
“Kenapa harus seperti ini?”
Wanita itu lagi-lagi menjatuhkan dirinya saat dia berjalan, tubuhnya lemas bobot nya berkurang semenjak hari itu,wajahnya basah karena air mata dengan mata bengkak yang disekitarnya dihiasi lingkaran hitam, sang wanita melihat kearah depan pandangannya tertutup kabut dan dia tidak bisa melihat apapun. Angin kembali bertiup tidak hanya dari satu arah kini menerpa nya dari berbagai arah, ia hanya bisa duduk terdiam. Hingga akhirnya ia menyerah dan membiarkan angin terus menerpanya.
***
“aaaaaaaa….!!!!”
Teriakan itu kembali terdengar dari balik jendela kamar yang selalu terbuka. Sangat kontras dengan hati manusia di baliknya yang hatinya telah tertutup dan mati. Sayup terdengar bantingan keras, setelah 30 menit semua suara benar-benar hilang. Sunyi senyap yang tertinggal. Ia tertidur setelah melampiaskan semua perih dihatinya.
***
Lari, wanita itu hanya ingin lari melepaskan semua beban yang terus mengganduli pundaknya. Ia terus berlari tanpa henti meski saat itu kedua kakinya sudah menjerit ingin berhenti, detakan jantung nya pun semakin keras memberontak ingin keluar dari raganya. Ia terus berlari, berlari. Suara yang sangat memekakan telinga memberi peringatan kepadanya. Ia mengacuhkan dan terus berlari. Tanpa ia sadari sebuah benda dengan kecepatan yang sangat tinggi menghantam tubuhnya.
Seketika semua beban itu hilang. Bebas, Ringan, Terbang yang dirasakannya. Biru di sekitarnya dan Ia kembali berlari tanpa beban dengan senyum abadi yang terhias di wajahnya.
***
Matahari terbit pria itu melangkah kearah gundukan tanah bernisan terukir sebuah nama yang sangat familiar di hidupnya. Kali ini berbeda, pria itu yang menyadari bahwa semuanya tidak lagi sama keadaan telah berubah tidak seperti yang ia harapkan. Ia bersimpuh menghela nafas panjang disisi kiri nisan. Air mata menetes dari kedua bola matanya.
PELANGI
pagi ini berbeda matahari belum memberikan sinarnya
langit hitam dan kilat terus menyambar, tidak harus menunggu lama, ya hujan turun dengan deras nya seketika.
hmmh..
banyak sekali kulihat keluhan dari para manusia di bawah
sejenak aku berpikir,
baiklah hari ini aku akan keluar setelah hujan dan kilat menyelesaikan tugasnya.
tapi aku tidak akan membiarkan manusia yang berkeluh kesah itu dapat melihat keindahanku.
kali ini hanya mereka yang bahagia karna dapat menghargai hidup yang dapat melihatku.
***
Ani, 11 tahun
tubuh mungilnya menyusuri sebuah jalan kecil yang sangat sepi dan gelap. malam ini ia masih harus membantu majikan nya membersihkan rumah makan.
ani bekerja di rumah keluarga Haryanto.
Jam yang tergantung di dinding itu menunjukan pukul 11.30
sejenak ani berpikir, untung ia telah mengerjakan semua tugas sekolah nya untuk esok hari.
Yah benar, Ani tetap bersekolah. Keluarga Haryanto berjanji untuk menanggung semua biaya pendidikan nya, itu alasan terbesar Ani tetap bertahan bekerja untuk keluarga Haryanto meskipun ia harus terus mengelus dada dengan sikap keluarga Haryanto.
Ani tidak mengenal siapa Ibu yang mengandungnya dan melahirkannya, apalagi ayahnya yang hanya menanam benih di rahim ibunya. Ani hanya tahu Bu Suryo yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang, meskipun waktu dan sayang nya harus terbagi dengan anak-anak lain di panti asuhan tempat ia tumbuh. Sembilan tahun ia dirawat Bu Suryo bersama teman-teman nya yang lain, hingga keluarga Haryanto bersedia mengadopsinya. Adopsi, mungkin itu hanya akal-akalan keluarga Haryanto. Kata memperkerjakan sepertinya lebih tepat. Ya keluarga Haryanto mengambil Ani di Panti asuhan untuk memperkerjakannya dengan imbalan menyekolahkannya. Terkadang Ani rindu sekali dengan panti asuhannya, dimana ia bisa merasakan kasih sayang.. hmm mungkin keluarga. Karna Ani tidak memiliki keluarga hingga ia tidak tahu bagaimana rasanya dan bentuknya kasih sayang keluarga.
Jam menunjukan pukul 4 pagi, ani segera bangun dan merapihkan seluruh isi rumah. Ia menyapu dan mengepel rumah itu, setelah itu ia mencuci semua baju kotor, sembari ia memasak. Setiap hari selalu ada ‘pagi sibuk Ani’ kecuali di hari Minggu karna Ani tidak harus terburu-buru merapihkan isi rumah karna Ani tidak harus ke sekolah di hari minggu.
Jam menunjukan pukul 5.30 hari ini sepertinya sinar matahari tertutup awan gelap dan kilat yang terus menyambar, sejenak Ani berpikir bagaimana dengan baju yang sudah dicuci ini. Ani berspekulasi dan tetap menjemur nya satu per satu. Segera ia mengganti pakaian nya dengan pakaian seragam. Tiba-tiba terdengar suara hujan turun dengan derasnya, dengan sigap Ani bergegas menurunkan semua pakaian yang tadi dijemurnya, dan dipindahkannya ke dalam rumah. Seragam nya sedikit basah, karna terkena hujan tadi. Ani masuk ke kamar mengambil jaket, topi, payung dan dua buah kantong plastik. Ia berjalan ke teras dipakainya jaket untuk menutupi tubuhnya, topi menutupi kepalanya, dua buah kantong plastik di sepatunya, agar tidak basah, dibuka payung hijau nya dan ia berjalan keluar rumah, hujan hari ini sangat deras pikirnya. Ia berjalan menuju sekolahnya, sembari ia mengucap syukur kepada tuhan karna hari ini ia diberikan kesempatan untuk kembali melihat isi dunia, untuk bekerja pada keluarga Haryanto, untuk pergi ke sekolah meskipun harus berjalan di tengah hujan yang sangat deras. Tidak ada raut murung diwajah Ani, senyum tulus terhias di bibir mungilnya.
Hujan tidak lagi deras, hangat sinar matahari mulai terasa dan pelangi terlukis indah di langit. Ani terdiam, ia tersenyum karna ini kali pertama ia melihat sosok pelangi.
Ia menghampiri pria yang berdiri di sampingnya dan menunjuk langit agar pria itu melihat juga pelangi yang menghiasi langit pagi ini. Dengan muka yang ditekuk, pria itu berkata “mana ada pelangi!udah gak usah berisik saya kesal dengan hujan di pagi hari ini.”
***
Ani, gadis kecil itu.
aku biarkan ia melihat keindahan warnaku
agar ia tahu
ketika tuhan menurunkan hujan dan menyembunyikan matahari,
sebenarnya tuhan sedang menyiapkan ’aku’ untuknya.
Rasa
Tersimpan rapi disini
Harapan itu pun masih tergantung
Tergantung di tempat tertinggi
Tak perlu aku tunjukkan
Tak perlu aku sampaikan
Ketika hati sempat seirama
Maka lagu akan tetap mengalun
Dan alunan akan tetap terdengar
Aku sakiti untuk selamatkan
Agar luka tidak semakin dalam
Ketika gelas itu terpecah
Aku memilih untuk meninggalkan
Agar tangan ini tidak terluka
Karena usaha memperbaikinya
Itu semua cukup,
Meski tak berwujud
Karena kita punya rasa,
Hayati rasa itu
Dengarkan alunan iramanya
Dan temukan rasa sebenarnya
Satu
Satu..
Nominal pertama dalam barisan angka
Tanpa Satu tidak mungkin menjadi dua, tiga, atau seratus..
Sabrina, satu..
Satu – satu nya wanita yang dikenal oleh Pria
Satu – satu nya wanita yang dipuja oleh Pria
Satu – satu nya wanita yang Pria harap bisa menjadikannya dua atau lebih
Sabrina,
Di Satu tempat yang Pria tidak tahu dimana
Karna Pria bukan satu – satu nya pria yang dikenal dan dipuja oleh Sabrina
Satu,
Tetap Satu, Pria tidak mau menjadi dua atau lebih tanpa Sabrina
Meski Sabrina telah menjadi empat tanpa Pria
Satu…
Waktu
Ketika kamu memiliki beragam pertanyaan,
Ketika kamu membutuhkan pembuktian,
Kamu tahu siapa yang bisa menunjukkan jawabannya?
Selain Tuhan tentunya,
Aku, hanya aku dan Tuhan yang bisa
Sabar, hanya itu yang kamu perlukan untuk mendengar jawaban dariku.
Aku memiliki beragam wujud
Aku ada di berbagai tempat
Kemasan pun berbeda
Aku tidaklah sama di setiap tempat
Setiap tempat memiliki aku yang berbeda
Terkadang, aku di sia-sia kan
Ketika kamu sadar
Kamu akan merasakan aku perlu ditambah
Kadang kamu merasa aku mengejarmu
Sebenarnya, manfaatkan aku sebisamu
Ikuti ritmeku
Atur aku dengan baik
Semua akan berjalan lancar
Ketika kamu tidak bisa mengikuti ritmeku
Kamu tidak akan pernah merasa aku cukup
Aku dapat mengubah bentukmu
Tapi jangan berharap kamu dapat mengubahku,
Bahkan menghentikanku pun kamu tak akan sanggup
Tak akan
Aku hanya menatap dan berjalan ke depan
Aku tidak akan mundur atau menatap ke belakang
Karena langkah yang kutahu hanyalah kedepan
Ketika kau meratapi masa lalu
Kau akan tertinggal dariku, karena aku terus melangkah ke depan.
Aku, waktu…
Aku tahu, kamu tahu aku..
Ibu
7, 8, 9,
teruslah berhitung
aku sedikit dibelakangmu
j, k, l,
teruslah mengeja
aku masih disini
aku masih disini
ketika ulat telah menjadi kupu-kupu
ketika tunas telah tumbuh
ketika kamu beranjak dewasa
aku tidak membenarkan
aku tidak menyalahkan
aku beri pengertian
ketika semua berjalan berlawanan
ketika semua mendebat
ketika semua meninggalkan
aku, yah aku tetap berada sedikit dibelakangmu
kamu tidak perlu berubah
kamu tidak perlu memohon
kamu tidak perlu berusaha
karena aku ibu, akan berjalan sedikit dibelakangmu


